Di sini aku hanya akan bercerita sebuah pengalaman dari seseorang yang pernah curhat tentang kisahnya.
Agustus 1997:
Waktu itu di sore yang cerah, aku sedang duduk di teras rumah nenekku sambil memegang buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.Seseorang bermuka masam datang. Tampak di wajahnya bersungut-sungut menahan marah.Dia kakak kelasku,saat itu dia sudah Sekolah Menengah Atas kelas 3.
Dihempaskan tubuhnya di bangku kosong sampingku. Kutatap matanya dalam, jelas kelam di situ.
"Ada apa?" tanyaku pelan.
Dihela napasnya pelan, dipejamkan matanya sekejap. Perlahan dia berujar,"aku sedang kecewa".
Aku diam menanti kelanjutannya, namun setelah beberapa saat dia tak berkata apa-apa, dia hanya menatap kosong ke jalan, melihat orang yang lalu lalang.
"Sudah,itu saja?"tanyaku berharap.
Perlahan diungkapkannya kegelisahannya, bahwa ia sedang jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.Hidupnya serasa di awang-awang,namun itu tidak berlangsung lama saat ia menerima kenyataan bahwa cintanya tak bersambut lantaran orang tua.
Ibunya seorang single parent sejak 3 tahun lalu.Ayahnya lebih memilih sosok wanita lain yang hadir di dalam rumah tangga mereka.Sejak itu ibunya berjuang sendirian demi kelanjutan hidup mereka.Dan tiba-tiba ada seorang pria yang menawarkan sebuah masa depan baru untuk ibunya.
Menurutnya, dia orang yang baik dan pantas untuk ibunya, yang pasti ibunya tidak perlu berduka setiap mengingat sosok ayahnya yang ingkar itu.Tapi, seiring berjalannya waktu dan detik-detik kebahagiaan ibunya tiba,saat itu pula kebahagiaannya harus pergi. Pria itu, calon ayah tirinya adalah ayah dari kekasihnya.
"Aku harus bagaimana?" desahnya pelan mengakhiri kisahnya.
Aku tertegun tidak tahu harus berkata apa,aku menutup buku IPS yang dari tadi kupegang tanpa terbaca.
"Kalian sudah membicarakan hal ini berdua? Atau mungkin kamu bicara ke ibu?" tanyaku penuh selidik. Dia hanya menggeleng.
"Kami sama-sama tidak tahu harus bagaimana,mereka orang-orang terbaik dalam hidup kami, kami tidak tega menyakiti dengan kisah kami,"sejenak ia pun menarik napas yang terasa berat.Dia diam, aku pun diam.
Perlahan dia berdiri dan melangkah meninggalkanku sendiri yang masih belum tahu harus berkata apa-apa.
"Aku pulang!" desahnya pelan, aku hanya mengangguk.
Sehari, dua hari,seminggu,dan kurang lebih sebulan aku menerima undangan pernikahan ibunya,aku sendiri tidak tahu apakah nama pria yang tertera di kertas undangan itu adalah ayah kekasih temanku?
Dua hari kemudian aku datang ke acara pernikahan itu, kulihat temanku sedang berbincang dengan seorang pengiring pengantin.Dia melambai kearahku, aku bergerak mendekat.
"Kenalkan ini,kakakku,Dimas!" suaranya tegas dan tulus. Dahiku berkerut,alis mataku bertaut.
"Ini...?"ucapku tertahan.
"Iya,"tukasnya.
"Jadi...?"seperti tercekat tenggorokanku.
"Jadi,aku sekarang punya ayah dan kakak baru.Ibuku lebih berhak untuk menikmati kebahagiaannya,waktuku masih panjang,kan?" Ucapnya dengan ceria.
Entah dibuat-buat atau bagaimana aku tidak tahu. Aku mengangguk-angguk setuju.
Inilah perjalanan, tak ada yang tahu rencana Tuhan,hidup adalah suatu episode cerita dan tak seorang pun tahu akhirnya.
Apakah kisah ini pantas untuk mewakili,"enjoy your life" edisi ini?
Andalah yang menilainya.
may be, semoga bahagia.
BalasHapus